Dakwah Islam

Dakwah Islam

COBAAN DALAM BERAGAMA

DAKWAH ISLAM : Dari Khabbab bin al-Aratti Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah Shallallahua ‘alaihi wa sallam, ketika itu beliau sedang berbantalkan sorbannya di bawah lindungan Ka’bah. Kemudian kami bertanya, ‘Apakah engkau tidak memintakan pertolongan untuk kami? Apakah engkau tidak mendoakan untuk kebaikan kami?’

Dakwah Islam

Dakwah Islam

Beliau bersabda, ‘Orang-orang yang sebelum kamu itu ada seseorang yang ditanam hidup-hidup, ada seseorang digergaji dari atas kepalanya sehingga tubuhnya terbelah dua dan ada pula seseorang yang disisir dengan sisir besi yang mengenai daging dan tulangnya, tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya.

 

Demi Allah, Allah pasti akan mengembangkan agama Islam hingga merata dari Shan’a sampai ke Hadhramaut, dan masing-masing dari mereka tidak takut melainkan hanya kepada Allah atau takut serigala menyerang kambingnya. Tetapi kamu sekalian sangat tergesa-gesa’.” [1]

 

PELAJARAN YANG DAPAR DIPETIK

 

Menerangkan keutamaan sabar dan cobaan dalam beragama.

Menerangkan salah satu mu’jizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni tersiarnya Islam dan terwujudnya keamanan dan kedamaian.

Kesabaran para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamatas siksaan yang bertubi-tubi dengan penuh kerelaan dan jiwa yang tenang.

Anjuran untuk beruswah kepada orang-orang yang shalih yang banyak mendapat cobaan dan mereka tetap bersabar dalam menghadapinya.

Islam adalah agama yang penuh kedamaian dan ketenangan hingga datang hari kiamat.

___________________

[1] HR. Al-Bukhari, 3612; Ahmad, 5/109; al-Humaidi, 157; Abu Dawud, 2649; an-Nasai, 8/204.

 

[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, edisi bahasa Indonesia: “61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat”, pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta]

Dakwah Islam dan Seekor Lalat

 

Seperti halnya ciptaan Allah yang lainnya, seekor lalat ternyata punya arti penting dalam dakwah Islam. Karena seekor lalat bisa berbicara dan membuktikan kebenaran ajaran Islam.

Hal itu diungkapkan Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Prof Dr Ir H Ika Rochdjatun Sastrahidayat di Denpasar, Bali, Ahad (2/11). Dia menyebutkan dalam satu hadits Rasulullah SAW dikatakan bahwa bila ada lalat yang hinggap dan menempelkan sayap kirinya pada minuman kita, maka celupkanlah sayap yang satunya lagi. Karena pada sayap kiri lalat terdapat bakteri atau penyakit, sedangkan pada sayap kanannya terdapat obat atau penawarnya.

Terlepas dari hadits itu soheh atau dhoif, kata Ika, dia kerap terusik dengan hadits nabi yang sudah didengarnya sejak dia masih duduk di bangku SMA. Karenanya, ketika salah seorang mahasiswa S1-nya hendak melakukan penelitian, dia menyarankan agar meneliti lalat. Karena Ika mengajar di fakultas pertanian dan penelitian bakteri adalah bagian dari kegiatan fakultas kedokteran, maka dia meminta agar mahasiswanya melakukan penelitian di lab milik fakultas kedokteran.

Sayap lalat dipotong-potong dan dipisahkan antara sayap kiri dan kanan. Saat diperiksa di laboratorium, ternyata sayap kiri lalat mengandung sejumlah bakteri dan di sayap kanannya terdapat jamur-jamur yang kemudian bisa menjadi antibiotik.

“Ini pelajaran dari Rasulullah, milik Islam, tapi yang kemudian mengembangkan dan memanfaatkannya adalah orang-orang Barat,” kata Ika dalam acara pengajian Ahad pagi di Masjid Baitul Makmur Denpasar.

Islam memang harus dipahami dengan ilmu, dengan akal. Karena itu, sebut Ika, semakin berkembang ilmu pengetahuan, semakin dapat membuktikan kebenaran-kebenaran ajaran Islam. Sebagaimana halnya seekor lalat yang begitu bermakna dalam membuktikan kebenaran ajaran Islam.

Menurut Ika, bila seseorang mengkaji Islam dengan benar, maka untuk memahami kandungan satu ayat saja tidak cukup waktu seumur hidupnya. Sebaliknya sekarang ini kebanyakan orang belajar Islam hanya sekedar mebaca permukaannya atau kulit luarnya saja. “Islam itu harus dipelajari dengan ilmu, dengan dasar-dasar pengetahuan,” katanya.

Jalan Terjal Dakwah Islam di Tajikistan

Selama 20 tahun terakhir, setelah runtuhnya Uni Soviet, negeri yang masih belia ini mengalami proses interaksi yang unik sekaligus rumit antara rezim penguasa yang berpaham sekuler dengan kekuatan politik komunitas Muslim. Sebagian besar penduduk Tajikistan adalah Muslim Sunni.

Sejarah mencatat, pasukan Muslim menaklukkan kawasan tersebut pada 644 M. Selanjutnya, proses penyebaran Islam di wilayah itu harus melalui jalan yang terjal dan waktu yang lama. Selama beberapa abad, Ke kaisaran Samanid menguasai wilayah ini, menggantikan penguasa sebelumnya, yakni kaum Muslim Arab.

Di bawah Samanid, Kota Samarkand dan Bukhara ditata kembali menjadi lebih besar dan megah. Dua kota ini menjelma menjadi pusat kebudayaan bagi Muslim Sunni yang berbahasa Persia.

Pada masa itu, kunci penyebaran dan pengembangan budaya Islam dimainkan oleh tarekat sufi. Tarekat yang terbesar dan terkenal sampai saat ini adalah Naq sa ban diyah, Kubrawiyah, Qadiriyah, dan Yasa wiyah. Ada juga komunitas Ismailiyah yang tinggal di wilayah pegunungan terpencil. Saat ini, jumlah penganut tarekat Ismailiyah di Tajikistan mencapai 200 ribu orang atau sekitar tiga persen dari total penduduk.

Pada abad ke-19, Tajikistan masuk dalam wilayah Kekaisaran Rusia. Kemu dian, Tajikistan tergelincir ke dalam ceng keraman negara komunis Uni Soviet, me nyusul pecahnya revolusi sosialis 1917.

Selama periode Soviet, Tajikistan meng alami masa-masa suram. Kebudayaan dan peradabannya nyaris hancur. Begitu pula umat Islam hidup sengsara akibat penindasan rezim komunis. Kala itu, penguasa komunis menciptakan kaum elite baru yang sekuler dan ateis untuk memusuhi Islam.

Uniknya, justru pada periode Soviet lah Islam menancapkan pengaruh yang kuat dan dalam terhadap masyarakat Tajikistan. Hal itulah yang menjelaskan mengapa satusatunya partai Islam yang legal di bekas wilayah Soviet ada di Tajikistan. Partai yang lahir setelah ambruknya Soviet pada 1991 itu adalah Partai Kebangkitan Islam (PIR).

Setelah Tajikistan menjadi negara merdeka, terjadi pergulatan sengit untuk meraih kekuasaan, yang akhirnya meng obar kan perang saudara. Sebagaimana umum nya perang saudara, konflik ini melibatkan kelompok berbeda yang masih satu bangsa (bangsa Tajik), yakni pendukung pemerintahan sekuler di satu sisi dan pendukung Serikat Oposisi Tajik (UTO) di sisi yang lain. UTO terdiri dari sejumlah kelompok yang menjadi oposisi bagi pemerintahan. Kelompok-kelompok itu antara lain kelompok nasional demokrat dan kelompok Islam.

Namun, kelompok terkuat dalam UTO adalah Islam, dipimpin oleh PIR. Pada masa itu, pemimpin PIR yakni Said Abdullo Nuri. Ia adalah pemimpin oposisi dan agama yang paling berpengaruh bagi bangsaTajik. Pengaruh partai Islam dalam konflik ini amat kuat, bahkan umat Islam dikenal sebagai pejuang paling tangguh selama masa perang. Perang sau dara terus berkobar hingga 1997 dan menewaskan se ba nyak 80-150 ribu orang.

Lima tahun berjibaku dalam perang saudara yang menghancurleburkan banyak hal, pihak-pihak yang terlibat konflik ak hir nya duduk bersama di meja perundingan. Dalam upaya perdamaian itu, peran kunci mediasi dimainkan oleh Rusia. Namun karena ta jam nya konflik yang ter jadi, Kremlin baru bisa memulai proses negosiasi setelah upaya kesembilan. Hasil utama dari perjanjian itu adalah pihakpihak yang terlibat konflik sepakat membentuk Ko mite Rekonsiliasi Nasional (NRC).

Komite tersebut didi rikan pada 1997. Ber da sar kan perjanjian damai itu, oposisi mendapatkan 30 persen posisi dalam struk tur pemerintahan dan 25 persen posisi di Komisi Pe milihan Pusat.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *