Busana Muslim

BUSANA MUSLIM : Kerajaan Arab Saudi mulai melirik industri busana muslim dari Indonesia. Negeri itu bahkan siap menawari masuknya produk Indonesia di kawasan ekonomi King Abdullah Economic Center yang ada di Jeddah, Madinah, dan Riyadh.

Busana Muslim

Busana Muslim

Hal itu diungkapkan Gubernur Otoritas UKM Arab Saudi Ghsaan Alsuliman. Saat berkunjung ke Gedung Smesco atau dikenal dengan Galeri Indonesia Wow, Ghsaanmengatakan, pihaknya sangat tertarik dengan industri fesyen Indonesia. “Saya berharap industri fesyen busana Muslim dan pakaian tradisional dari Indonesia bisa terus dikembangkan, tapi bukan semata-mata untuk kalangan Muslim saja. Melainkan bisa untuk semua kalangan,” kata Ghsaan.

Menurut  Ghsaan, pihaknya sudah membangun kawasan ekonomi bernama King Abdullah Economic Center yang berlokasi antara lain di Jeddah, Madinah, dan Ryadh. “Kami berharap, produk UKM dari Indonesia bisa menjadi bagian dari itu. Karena kami ingin melakukan kerjasama dalam mengembangkan UKM yang berdaya saing dan berbasis teknologi,” kata dia.

Ke Gedung Smesco, Ghsaan membawa rombongan banyak orang, di antaranya, Dr Abdullah Alsghair (Deputi Gubernur), Emad Alharshan (Manager of the Governor Office), Ayman Mirdad Atase (Kepala Bagian Perdagangan Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta), dan Safaat Ghofur (Kasubdit III Kemlu Direktorat Timur Tengah). Dalam kunjungannya, mereka disambut Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharam bersama Deputi Bidang Pembiayaan Kemenkop dan UKM Braman Setyo, Deputi Bidang Kelembagaan Kemenkop dan UKM Meliadi Sembiring, Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Hasan Jauhari, dan Dirut Lembaga Layanan Pemasaran (LLP).

Agus menjelaskan, kedatangan delegasi Arab Saudi itu selain untuk bertukar informasi juga sebagai tindak lanjut dari MoU mengenai kerjasama pengembangan UKM yang ‎telah ditandatangani antara Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga dengan Ghsaan Alsuliman di Istana Bogor, Rabu (1/3/2017). Penandatanganan kerjasama itu disaksikan Presiden Joko Widodo dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al-Saud.‎

Ada enam poin yang dimuat dalam kerjasama tersebut, antara lain pertukaran informasi mengenai program-program UKM, pertukaran tenaga ahli, fasilitasi kerjasama dalam meningkatkan kualitas produk dan daya saing UKM, kerjasama pelatihan vocational dan managerial, fasilitasi kerjasama UKM, dan menyediakan informasi, peluang-peluang dan dukungan untuk UKM dalam mengakses pasar di kedua negara.

“Sebagai tindak lanjut berikutnya, Kemenkop dan UKM tidak bisa bekerja sendiri, melainkan akan melakukan kerjasama dan koordinasi dengan kementrian lain, seperti Kementrian Riset dan Dikti, Kementrian Perindustrian, serta Kementerian Pertanian,” kata Agus.

Orang kedua di Kemenkop ini menjelaskan, kerjasama dengan pihak Arab Saudi akan dikonkritkan dalam dua bulan ke depan di Indonesia sebagai penjabaran dari MoU Istana Bogor tersebut.  “Karena, mereka lebih concern ingin melakukan kerjasama bisnis dengann UKM yang skalanya sudah menengah dan sudah berbasisn teknologi dalam menjalankan bisnisnya,” ujar Agus.

Sementara itu, Gubernur Otoritas UKM Kerajaan Arab Saudi Ghsaan Alsuliman mengungkapkan, pihaknya sangat tertarik dengan industri

Usai menerima tamu dari Arab tersebut, Direktur Utama Lembaga Layanan Pemasaran [LLP] KUKM Ahmad Zabadi mengatakan, kunjungan delegasi dari Kerajaan Arab Saudi itu menjadi bukti bagi Smesco Indonesia memang sudah diakui oleh dunia. Karena itu, Zabadi tertarik untuk bekerjasama.

“Kami berharap kerjasama tersebut akan permanen dan cepat direalisasikan. Banyak poin yang menarik dari kerjasama bilateral tersebut. Di antaranya, pertukaran informasi mengenai program-program kebijakan, pembangunan, serta praktik-praktik terbaik dalam pengembangan UKM,” kata Zabadi.

Menurut Zabadi, di antara kerjasama ituberupa pertukaran tenaga ahli, kunjungan-kunjungan, tur untuk eksplorasi dan program-program lain terkait dengan pengembangan UKM. Tak hanya itu, bakal saling memfasilitasi kerja sama usaha di kalangan UKM melalui kegiatan-kegiatan seperti promosi perdagangan, pameran nasional dan internasional, kerjasama pemasaran, serta menumbuhkan kemitraan usaha.

“Contohnya, penyediaan peluang-peluang bagi UKM untuk berpartisipasi dalam pelatihan manajerial dan keterampilan teknis. Poin menarik lainnya adalah saling menyediakan informasi, memberikan peluang dan dukungan untuk UKM dalam mengakses pasar di kedua negara,” ujar Zabadi. [b]