Al-GHIRAH TERHADAP HARGA DIRI

Al-GHIRAH TERHADAP HARGA DIRI

GHIRAH : Kubu dan benteng pertahanan terakhir penjaga harga diri, kehormatan, dan kemuliaan adalah sifat al-ghirah/cemburu dan peduli terhadap harga diri yang ditanamkan Allah dalam jiwa setiap insan. Setiap wanita merasa peduli terhadap kehormatannya, walinya juga merasa peduli terhadap kehormatan mahramnya, orang-orang beriman juga memiliki sifat ghirah jika kehormatan dan kesucian wanita muslimah dilecehkan atau dinistakan.

Esensi al-Ghirah

Ghirah dalam hati laksana imun bagi tubuh yang senantiasa melawan dan menolak penyakit. Jika imunitas tubuh lemah atau hilang, maka penyakit akan menyerang dan menghancurkannya.

Sifat Ghirah Bangsa Arab di Masa Jahiliah Pra Islam

Arab Jahiliah tak mengenal belas kasihan atau kata mengalah terhadap penistaan harga diri dan kehormatan. Sifat ghirah yang berlebihan sampai-sampai membuat mereka tidak suka dikaruniai anak perempuan, sehingga sebagian mereka terpaksa menguburnya hidup-hidup. Bahkan tingginya kecemburuan akan harga diri acap kali memicu perang dahsyat antar suku. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَإذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالأُنثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ . يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ} [النحل: 58-599]

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.

Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.  (QS. an-Nahl: 58-59)

Bangsa Arab juga tidak peduli sebanyak apa pun harta yang harus didermakan demi menjaga harga diri dan kehormatan. Seorang penyair Arab berkata:

Kukorbankan seluruh harta demi kehormatan

Demi Allah, tiada guna harta jika harga diri ternista

Aku bisa berdusta demi meraih kekayaan

Tetapi untuk harga diri aku takkan rela melakukannya[1]

Ghirah mereka tidak hanya terfokus pada harga diri dan kehormatan pribadi, akan tetapi juga atas kehormatan tetangga, kerabat, dan kabilahnya. Antarah bersya’ir:

Kutundukkan pandangan jika istri tetanggaku lewat

Sampai ia berlalu dari pandangan[2]

Sifat Ghirah wanita Arab sangat tinggi, hingga terukir dalam bait-bait sya’ir dan tak jarang jadi perumpamaan. Dalam sebuah ungkapan, Uktsum ibn Shaifi berkata: “Wanita merdeka mungkin kelaparan, tapi ia takkan memakan buah dadanya.” [3](Tidak akan menjual harga dirinya, Pent.)

Al-A’sya bercerita tentang seorang wanita yang lewat dengan sangat perlahan melewati rumah tetangganya, agar ia tidak menjadi pusat perhatian mereka:

Ia berlalu di depan rumah tetangganya dengan perlahan

Seperti jalannya awan, tidak tergesa tidak pula lamban[4]

Nabighah adz-Dzubyani bersenandung tentang seorang wanita:

Selendangnya jatuh tanpa ia kehendaki

Ia segera memungutnya seraya berpaling dari kami[5]

Perhatian dan Didikan Islam Terhadap Sifat Ghirah

Demikianlah sekilas gambaran besarnya perhatian Arab Jahiliah terhadap harga diri dan kehormatannya.

Setelah Islam datang membawa pembaharuan. Islam tetap melestarikan sifat ghirah tersebut, sembari memurnikan dan meluruskannya. Islam menganjurkan mempunyai banyak anak perempuan, setelah sebelumnya begitu dibenci.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan lalu ia bersabar atas mereka, dan memberi makan mereka, minum, serta pakaian kepada mereka dari kecukupannya, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat.”[6] 

Dengan tegas, Rasulullah juga membedakan antara ghirah terpuji dan ghirah yang tercela. Beliau bersabda: “Ada jenis ghirah/cemburu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapula yang dibenci-Nya. Yang disukai, yaitu cemburu tatkala ada sangkaan atau tuduhan. Sedangkan yang dibenci, yaitu adalah yang tidak dilandasi keraguan.[7]

Ulama mengatakan: “Mayoritas orang yang memiliki ghirah berlebihan sering kali terburu-buru dalam menjatuhkan sanksi tanpa memberi kesempatan orang lain meminta maaf dan tidak rela menerima permintaan maaf mereka. Barangkali ada alasan yang dapat diterima, namun ghirah yang berlebihan menghalangiya menerima alasan atau permohonan maaf.”

Sebaliknya, banyak pula orang yang terlalu mudah memaafkan karena minimnya sifat ghirah dalam dirinya. Ia berusaha membuat-buat alasan untuk memaafkan, bahkan terkadang memaafkan seseorang hanya karena kedudukannya. Tentu kedua jenis ghirah ini sama-sama tercela.

Binatang Lebih Mulia dari Manusia yang Tak Punya Rasa Ghirah

Berlebih-lebihan dalam ghirah/cemburu sangat tercela, namun tidak punya kecemburuan jauh lebih tercela. Sebab orang yang tidak punya rasa cemburu berarti lebih rendah dari Arab Jahiliah pra Islam. Bahkan lebih hina dari binatang melata, yang dengan instingnya masih memiliki kecemburuan. Kambing jantan, ayam, unta, dan monyet jantan sangat marah jika betinanya diusik pejantan lain. Ini adalah fakta nyata yang tidak asing lagi bagi manusia umumnya.

Dalam Kitab Shahihnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Amr ibn Maimun, ia berkata: “Di masa Jahiliah aku menyaksikan sekawanan kera berkerumun di sekitar seekor kera betina yang melakukan zina, kemudian sekawanan kera tersebut melemparinya dengan batu, dan akupun ikut melemparinya dengan batu.”[8]

Kehidupan Manusia Jadi Suci dan Indah dengan Menjaga Harga Diri

Dengan menjaga harga diri dan kehormatan, kemurnian agama dan indahnya kemanusiaan terlihat dengan jelas. Siapa yang tidak memiliki kecemburuan, takkan hidup luhur. Pria dan wanita mulia dipuji karena sifat ghirahnya. Setiap komunitas yang kaum lelakinya tidak memiliki ghirah, pastilah mereka mengabaikan kaum wanitanya.[9]

Lantaran itu, ulama menjadikan ghirah di antara syarat utama mahram yang boleh menemani wanita melaksanakan ibadah haji dan umrah. Jika lelaki tersebut tidak memiliki rasa cemburu dan kepedulian atas mahramnya, maka ia tidak layak jadi pendamping. Bila begitu ketatnya syarat mahram dalam perjalanan haji dan umrah, maka bagaimana pula dengan perjalanan lainnya?

Syari’at Islam mengangkat orang yang mati karena membela harga dirinya sebagai syahid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa terbunuh karena membela keluarganya, maka ia syahid.”[10]

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah cemburu, dan seorang mukmin pun cemburu. Dan kecemburuan Allah adalah jika seorang mukmin melakukan perbuatan yang diharamkan Allah.”[11]

Saat khutbah kusuf, Rasulullah bersabda: “Wahai ummat Muhammad, tiada yang lebih cemburu dari Allah saat melihat hamba lelaki atau hamba wanita-Nya berzina.”[12]

Ibn Qayyim menulis:

Penyebutan dosa ini secara khusus dalam khutbah kusuf memiliki rahasia yang indah. Menundukkan pandangan akan memancarkan cahaya dalam hati. Karenanya Allah menggandengkan perintah menundukkan pandangan dengan larangan berzina dalam satu surat, yakni surat an-Nur.[13] Sebab kedua hal ini saling berkorelasi. Dalam khutbah kusuf, Rasulullah memadukan kegelapan hati dengan zina, dan kegelapan alam dengan gerhana matahari, dan keduanya sangat berkaitan erat.[14]

Ghirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Orang yang paling pencemburu atas harga diri dan kehormatan  adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Sa’ad ibn Ubadah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sekiranya aku melihat seorang laki-laki bersama dengan isteriku, niscaya akan kutebas ia dengan pedang.” ucapan itu akhirnya sampai kepada Rasulullah. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Apakah kalian merasa heran terhadap kecemburuan Sa’d? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya, dan Allah lebih cemburu daripadaku.[15]

Faktor Penyebab Lemah atau Lenyapnya Ghirah

Faktor utama yang dapat melemahkan atau menghilangkan ghirah adalah banyak berbuat dosa. Ulama mengungkapkan: “Semakin sering seseorang berbuat dosa, maka kecemburuan atas harga diri, keluarga, dan manusia lainnya akan semakin pudar dari dirinya. Bahkan bisa menjadi begitu kritis, hingga perbuatan buruk tidak lagi dia anggap buruk, baik terjadi pada dirinya atau orang lain. Jika ia telah sampai pada fase ini, maka ia telah jatuh dalam jurang kebinasaan.”

Sebagian orang tidak hanya menganggap biasa perkara buruk, namun sampai memuji perbuatan keji, zhalim, dan perbuatan nista lainnya. Ia menganggapnya indah, berusaha mendapatkannya, dan menyeru orang lain melakukannya. Karenanya pria dayuts adalah makhluk Allah yang paling keji, dan surga haram atasnya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Tiga golongan manusia yang Allah Azza wa Jalla (tidak berkenan) melihat mereka di hari Kiamat, (yaitu) orang yang durhaka kepada orangtuanya, wanita yang bergaya seperti lelaki dan menyerupainya, serta pria dayuts.”[16] Dayuts adalah seorang pria yang membiarkan keluarganya berbuat keji dan tidak mempedulikannya.

Penutup

Semua hadits di atas mengindikasikan bahwa salah satu prinsip penting agama adalah ghirah, dan tiada agama bagi orang yang tidak memiliki sifat ghirah. Sifat ghirah senantiasa menjaga hati, maka anggota badan pun terpelihara dan terhindar dari perbutan keji lagi nista. Hilangnya ghirah akan membuat hati mati, dan anggota tubuh pun ikut pasif hingga tak mampu lagi menjaganya dari kebinasaan.

Jika benteng kemuliaan telah runtuh, perintah Allah telah diabaikan, maka mampukah seseorang mengingkari pengkhiantan rumah tangga, penyimpangan seksual, perkosaan, pembunuhan, dan berbagai kriminalitas lainnya?

Berapa sering benteng kemuliaan menyelamatkan orang-orang terhormat sehingga mereka tetap mulia. Dan betapa banyaknya kenistaan menelan korban, lalu menjerumuskannya kepada kebinasaan, hingga jadilah mereka orang-orang yang merugi. Dalam naungan kemuliaan terdapat perlindungan dan rasa aman. Sedang dalam jurang kenistaan hanya ada kehinaan.

Dalam keluarga, pria adalah penyangga yang memiliki otoritas. Jika penyangga lemah, maka rusaklah keluarga. Kemuliaan runtuh, kesucian pun hilang, dan mereka rela menjual kehormatan juga harga diri. Wal ‘iayadzu billah [17]

Semoga Allah senantiasa menjaga kehormatan serta kemuliaan kita dan kaum muslimin. Menanamkan sifat ghirah terhadap kehormatan dalam hati-hati kita. Dan melindungi kita dari jalan-jalan kehinaan dan kebinasaan.

 

BACA SELENGKAPNYA KAOS

BACA SELENGKAPNYA KAOS COUPLE

BACA SELENGKAPNYA KAOS DAKWAH

BACA SELENGKAPNYA KAOS NASEHAT

BACA SELENGKAPNYA KAOS CYBER

BACA SELENGKAPNYA KAOS MOTIVASI

BACA SELENGKAPNYA KAOS POLOS

BACA SELENGKAPNYA DESAIN KAOS

BACA SELENGKAPNYA MUKENA

BACA SELENGKAPNYA MUKENA BALI

BACA SELENGKAPNYA MUKENA KATUN JEPANG

BACA SELENGKAPNYA  MODEL MUKENA

BACA SELENGKAPNYA  BATIK

BACA SELENGKAPNYA MODEL BAJU BATIK

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *